Hukum Kekekalan Tawa dan Letusan Pistol Chekhov

5 Feb

Tak ada yang abadi. Begitu kata banyak orang mengomentari kehilangan. Mungkin benar tak ada yang abadi, tapi ada yang kekal.

Pertengahan Abad 18, James Prescott Joule bersama dua temannya, Hermann Von Helmholtz dan Julius Von Mayer, berhasil mengungkapkan teori tentang energi yang tidak dapat dimusnahkan, namun hanya berubah bentuk. Itulah yang kemudian disebut “Hukum Kekekalan Energi”.

Dua abad berselang, M. Aan Mansyur, penyair dari tanah Makassar mengungkapkan bahwa tak hanya energi yang kekal. Tapi juga, tawa.

“Hukum Kekekalan Tawa” menegaskan bahwa kebahagiaan atau kesenangan adalah tawa yang hanya “…mampir dari bibir ke bibir” Sesuatu yang tidak hilang, tapi hanya berpindah tempat. Sesuatu yang dapat disimpulkan bahwa kesedihan seseorang adalah kebahagiaan seseorang yang lain.

Empat dekade setelah “Hukum Kekekalan Energi” dicetuskan, Anton Chekhov (Penulis asal Rusia) menulis surat kepada sahabatnya. Dalam surat tersebut, Anton Chekhov memberi nasihat tentang cara menulis naskah yang baik. Menurut Chekhov, “Dalam suatu pementasan, jangan menaruh pistol di atas panggung. Jika kemudian kau tidak menembakkannya.”

Nasihat Chekhov tersebut hingga saat ini, dikenal sebagai “Chehkov’s Gun” atau “Pistol Chekhov”. Sebuah analogi yang mengajarkan tentang detail kepenulisan, bahwa segala yang ada dalam sebuah naskah harus memiliki fungsi masing-masing. Dengan kata lain, tidak berlebih-lebihan.

Hidup adalah narasi dan setiap orang adalah penulis naskah. “Pistol Chekhov” adalah aturan wajib agar hidup menjadi narasi yang menarik, dan menyenangkan untuk dinikmati. Jangan memiliki jika tak ingin memakai, seperti itulah kira-kira suara letusan “Pistol Chekhov” di atas panggung kehidupan.

Tawa itu kekal, maka bahagia dan berdukalah sewajarnya. Sebab, “Tawa” di bibir kita berasal dari bibir orang lain yang mungkin saja telah kita buat “tawar lalu asin oleh air mata”. Begitu pun sebaliknya.

Banowati, sebuah Puisi Gunawan Maryanto

5 Feb

BAHKAN TUHAN PUN LUPA:
KENAPA AKU MENCINTAIMU

aku lupa:
ini cinta atau alpa
ini cinta atau apa

tapi kau telah menggodaku
semenjak kali pertama melintas
di ruang rias
melintas, sebenarnya mengeras

lalu tinggal lagu-lagu senja
mengekalkan pagi-pagi hastina

kita pernah melewatinya, bukan
hanya lupa; kapan

cinta, atau suka, berkembang
layaknya ilalang
membelukar hingga luar pagar
pagar rumahmu
lalu jalan kecil yang memanggil-manggil
kecil, seperti cinta, hanya pas buat berdua

ya, kita bukan tukang kebun
yang awas dengan warna daun-daun
tahu-tahu: sudah bertahun-tahun

perang besar telah lewat
menghancurkan rumahmu
-seluruh kesepianmu
-seluruh yang pernah kaumiliki
wajah dan suaramu segera menua
layaknya logam berkarat
memberat
-kau belum setua itu, kau tahu
kau hanya terlalu lama mencinta
orang yang tak kaucinta

aku ingin mengajakmu duduk di sebuah malam
bercakap banyak hal sambil menikmati angin
memain-mainkan rambut ikalmu yang tak tebal
tapi batok kepalamu tak berisi apa-apa
hanya prasangka
perasaan-perasaan berlebihan
bagaimana aku bisa membuatmu bahagia
aku bahkan tak bisa membuatmu ketawa
-satu-satunya yang mungkin kulakukan
-satu-satunya hal yang kuinginkan kaulakukan

aku benar-benar tak tahu
bagaimana harus mengakhiri ini
selain dengan meninggalkanmu
sendiri malam ini
tapi jelas aku tak bisa bertahan
dengan seluruh ledakan-ledakan
kemarahan dan keputusasaan
-aku tak ingin tubuhku kering dan berkeping-keping
setelah seluruh penyamaran dan pertempuran
yang melelahkan dan menghabiskan

seluruh tanya-jawab kita berhenti sebagai upaya
membangun hubungan yang banal dan mokal
tanya-jawab kita sekadar menunggu senja
dengan lintasan-lintasan burung yang tak pernah kekal

surem-surem dewangkara kingkin ooo suramnya matahari yang berduka
lir manuswa kang layon oooooo.ooooo seperti manusia mati
ilang sirna denya memanise oooooooo hilang sudah keindahannya
ooo ooooooooooooooooooooooooooooo ooo

tapi kau telanjur menggodaku
bau tubuhmu telah melekat di paru-paruku
menjelma radang di malam-malam panjang
bagaimana bisa aku meninggalkanmu
-dalam keadaan seperti itu
bagaimana aku bisa meninggalkanmu
-dalam kesedihan serupa itu
bahkan tuhan pun lupa:
kenapa aku mencintaimu

Jogjakarta, 2008

Why Me?

2 Sep

Sore ini kita baru mengerti kenapa kau diberi masalah seperti ini (yang menurutmu selalu menghambat kau). Waktu kau bilang “why me?”, yang kita pahami dan kita yakini (bukan cuma sekedar sugestiku) sebagai adikmu, kau itu kakak terkuat. Kau tahu, kenapa tiap ada masalah yang cukup pelik, kita selalu cari kau? Karena itu, yang ada dalam kepalaku kau kuat dan bisa mengatasi masalah jauh lebih baik dari kita atau orang-orang yang pernah kita kenal, meskipun Dia orang alim (menurut anggapannya orang). Kita tidak tahu pasti, tapi rasanya Tuhanku juga punya anggapan yang sama dengan kita tentang sosokmu, yang jelas sangat beda dan tidak bisa disamakan dengan siapapun.

Yang jadi permasalahannya, betulkah kau sudah yakin dengan Dia? Betulkah kau sudah kenal dengan Dia? Atau sebenarnya kau hanya mensyaratkan sesuatu sama hubunganmu dengan Dia? Semacam cinta bersyarat. Kau akan yakin sama Dia kalau Dia bisa bakasih sesuatu yang kau inginkan. Dan jika itu tidak terjadi, kau hilang keyakinan sama Dia. Dan keyakinanmu akan muncul kalau kau sudah daatkan apa yang kau inginkan. Semacam itu mungkin? Keyakinan macam apa itu yang begitu?

Atau sebenarnya keyakinan kita berdua ini bisa diibaratkan kopi. Kita bilang cinta kopi, minum kopi tiap pagi dan malam. padahal sebenarnya kita minum kopi itu hanya untuk memenuhi gaya hidup saja tanpa disadari atau tidak. Bukan karena kita cinta atau butuh.

Tidak perlu bawa-bawa orang lain untuk jadi pembanding. Biarkan saja mereka. Mereka pasti punya pengalaman, pembelajaran yang tidak harus sama dengan kau. Mungkin orang lain sudah terlanjur kehilangan kepercayaan sama kau, sudah terlanjur kecewa. Tapi kita belum! Kau tenang saja, masih ada orang yang mendukung kau. Kita!

Ini yang lama kita tunggu. Pengakuanmu. Bukan pengakuan kalah atau lainnya. tapi pengakuanmu sama dirimu sendiri. Kita tau kau memang keras hati. Tapi saatnya kau harus mengaku supaya orang lain tahu apa yang kau rasa. Kita memang pernah menyalahkan kau, tapi Alhamdulillah perasaan itu kita langsung tepis. Dan sekarang, terus terang kita makin bangga jadi adikmu.

Kita sadar belum terlalu bagus untuk kasih nasehat atau saran. Tapi kalau misalnya memang untuk kebaikan bersama, kita minta untuk mulai mendengarkan orang lain. Jangan terlalu menuhankan hati dan pikiranmu.

*kita (red. Saya, aku)

Waktu Itu

17 Feb

Waktu itu kau bertanya mengapa kami mendaki gunung?

Dan saat itu kujawab “diam”

Kini akan kujawab kembali pertanyaan itu

Aku cinta, yaa.. jawabnya karena aku cinta!

Cinta pada keberanian hidup

Cinta yang berjuta kali membuat kami ingin kembali

Mungkin kau takkan pernah mengerti

Bagaimana kami mencintai sesuatu yang akan

Membuat kami mati dalam sekejap?

Tapi begitulah adanya cinta kami

Apa adanya tanpa syarat apapun

CatPer I : Pendakian Gunung Lompobattang (2.868 mdpl)

3 Jul

Perlu waktu 10 bulan bagi saya untuk melakukan pendakian yang pertama kali di Sulawesi selatan. Butuh waktu cukup lama untuk menghilangkan kejenuhan di kota yang terkenal dengan ikon pariwisata Pantai Losari ini. Saya bersyukur dan berterima kasih karena saya dipertemukan dengan kawan-kawan baru dari salah satu organ MAPALA tertua di Makassar, MPA MAHAPATI Makassar.
Proses awal trip kali ini sebenarnya sangat sederhana, karena sudah benar-benar mati-ide mati-gaya akhirnya saya coba untuk googling pendakian ke gunung Bawakaraeng. Dan ketemulah sebuah postingan ajakan trip Lintas Lompobattang-Bawakaraeng di Forum Backpacker Indonesia lengkap dengan ittenary-nya dari Bang Chaly. Setelah saya comment dan meninggalkan nomor telepon, beberapa hari kemudian beliau menelpon saya untuk kepastian ikut dalam pendakian.

Day I : Jumat, 6 Juli 2014
Kami berangkat dari lokasi yang sudah disepakati pada saat briefing selepas sholat Jum’at dari Makassar menuju desa terakhir di kaki Gunung Lompobattang, Desa Lembang Bu’ne Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa. Waktu yang ditempuh seharusnya kurang lebih 4 jam. Tapi karena beberapa kendala di perjalanan, kami tiba selepas shalat isya.
Memasuki desa pada ketinggian 1.400 mdpl ini, kami disambut dengan cuaca berkabut dan hujan gerimis yang cukup membuat seluruh badan menggigil. Rencananya kami akan menginap di rumah salah satu penduduk bernama Daeng Tata Juma’, yang kerapkali dijadikan tempat beristirahat bagi para pendaki yang ingin menaklukan gunung ini.
Yang menarik dari desa ini adalah hampir semua rumah penduduk bisa dijadikan tempat menginap bagi para pendaki, mereka akan dengan ramah mempersilahkan para pendaki untuk beristirahat di rumahnya sebelum melakukan pendakian. Sehingga para pendaki tidak perlu merasa khawatir mencari tempat yang nyamana untuk sekedar melepas lelah setelah perjalanan jauh. Uniknya lagi menurut Bang Chaly, keramahan seperti ini tidak hanya kita dapatkan di Lembang Bu’ne saja. Tapi hampir di semua desa-desa terakhir pos pendakian gunung di wilayah Sulsel. Namun ada satu hal sederhana tapi penting yang tidak ada dan tampaknya pemerintah daerah juga kurang peka terhadap hal ini, yaitu perizinan pendakian. Sehingga untuk mendaki gunung di wilayah sulsel ini, para pendaki harus dan wajib memperhatikan keselamatan jiwanya sendiri dan anggota kelompoknya. Di beberapa desa terakhir pos pendakian para pendaki harus meminta izin secara lisan kepada para tetua kampung atau kepala dusun setempat. Tim Search and Rescue (SAR) juga sudah ada di beberapa gunung yang menjadi destinasi pendaki.
Okey.. back to trip… kami turun di pertigaan Desa Lembang Bu’ne dan harus berjalan kaki sekitar 2 km menuju rumah Daeng Tata Juma’. Karena kelelahan hasil perjalanan jauh dan cuaca yang tidak bersahabat, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pinggir jalan berbatu. Malam itu ada 3 tim yang akan mendaki “Si Perut Besar” Lompobattang.

Day II : Sabtu, 7 Juni 2014
Setelah semalaman di temani hujan yang begitu syahdu dan ringikan babi hutan, paginya cuaca jauh dari kesan cerah dan masih setia dengan mendung dan gerimis. Kurang lebih pukul 8 pagi kami packing setelah menghangatkan badan dengan secangkir kopi panas dan segera menyusuri jalan desa yang berbatu menuju pos I.
Hujan kembali turun dengan derasnya. Kami akhirnya mampir di salah satu rumah penduduk, sebut saja daeng tata yang rumahnya juga sering dijadikan tempat singgah dan menyimpan motor para pendaki.
Pukul 11 lewat hujan tak juga reda, kami pun nekat menembus cuaca yang begitu tidak bersahabat agar kami bisa -setidaknya- camp di pos 9 sebelum malam.

DSCN2081

DSCN2085

POS 1-POS 2: Menuju pos 1 jalur masih termasuk perkebunan penduduk yang berakhir dialiran sungai. Pos 1 tepat berada di pinggiran aliran sungai ini. Jarak yang ditempuh tidak lebih 1 km dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit dari jalan desa. Pos 1 berada pada ketinggian 1.400 mdpl.
Dengan kondisi hujan gerimis kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 2 dengan jalur yang langsung menanjak. Karena hujan maka jalur ini menjadi sangat licin dan mudah sekali bagi para pendaki untuk terpeleset. Sebelum memasuki pos 2, kami sempat beristirahat sebentar karena perut memang belum diisi dari pagi.

POS 2-POS 3 : Memasuki pos 2 jalur landai dan ditumbuhi semak belukar berduri yang tinggi-tinggi. Kondisi jalur berupa jalan tanah yang pada saat hujan menjadi sangat becek. Pos 2 terletak persis di seberang sungai dengan ketinggian 1.638 mdpl.
Di pos 2 kami berhenti sejenak untuk mengisi persediaan botol-botol air, karena mata air selanjutnya hanya berada di pos 9. Di pos ini juga terdapat camping ground yang cukup luas, sehingga menjadi alternatif tempat camp sebelum melanjutkan perjalanan.
Pada saat itu terdapat dua kelompok pendaki yang sedang camping, namun karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan akhirnya mereka membatalkan pendakian.
Jalur menuju pos 3 masih di dominasi oleh semak belukar di awal perjalanan, kemudian di dominasi oleh hutan pinus berlumut yang lebat yang merupakan ciri dari hutan pegunungan bawah. Jalur menanjak dengan kondisi tanah bebatuan dan akar-akar pohon yang keluar dari dalam tanah.

DSCN2099

DSCN2108

DSCN2128

DSCN2133

POS 3-POS 4 : Waktu tempuh kami untuk mencapai pos ini ± 40 menit dari pos sebelumnya dengan kondisi cuaca yang makin bertambah parah. Hujan deras ditambah angin yang berhembus kencang disertai kabut tebal adalah alasan kami agar segera melanjutkan perjalanan tanpa menunggu tubuh semakin menggigil.
Pos 3 terletak di tengah hutan berlumut pada ketinggian 2.047 mdpl. Jarak tempuh menuju pos 4 sekitar 423 meter.
Jalur menuju pos 4 hampir sama dengan jalur menuju pos 3 dengan kondisi tanah bebatuan dan akar pohon.

POS 4-POS 5 : Di pos 4 waktu menunjukkan pukul 16.17 WITA, itu artinya waktu tempuh kami dari pos sebelumnya sekitar ± 50 menit. Waktu tersebut terbilang cukup cepat karena jalur menuju pos 4 semakin menanjak daripada sebelumnya. Ditambah lagi dalam kondisi cuaca yang buruk. Waktu normal mencapai pos ini sekitar 1 jam lebih.
Pos 4 terletak di ketinggian 2.262 mdpl dan berada di puncak bukit dengan pemandangan yang terbuka. Berhubung kabut yang mulai tebal, kami tidak dapat menikmati pemandangan hanya menikmati hujan yang semakin deras dan kondisi fisik yang mulai drop.
Menuju pos 5 jalur menurun agak terjal dan cukup panjang namun menanjak ketika mendekati pos ini, sehingga kami hanya membutuhkan waktu ± 40 menit dari pos sebelumnya. Kondisi jalur berupa tanah bebatuan dengan jarak 433 meter menuju pos selanjutnya.

DSCN2142

DSCN2145

DSCN2151

POS 5-POS 6 : Pos 5 berada di ketinggian 2.418 mdpl dan berada di dataran yang agak terbuka. Bisa dijadikan alternatif camping ground namun lebih cocok jika kondisi cuaca bagus.
Jalur menuju pos 6 berupa pendakian berkelok-kelok yang dapat membuat lutut gemetar. Jalur menuju pos 6 didominasi semak belukar dan tumbuhan santigi yang lebat. Jarak tempuh menuju pos ini sekitar 416 meter dari pos 5 dan membutuhkan waktu ± 40 menit. Pos 6 berada di tempat yang landai dan tertutup dari terpaan angin lembah walaupun berada di bibir jurang.
Karena hari yang sudah agak gelap dan hujan angin yang tak kunjung berhenti, kami pun memutuskan untuk mendirikan camp di pos ini. Di tambah lagi energi kami sudah terkuras habis.

DSCN2152

DSCN2158

DSCN2159

bersambung…

Tuhan Tidak Abadi

28 May

keep-calm-because-allah-never-sleepTidak ada yang salah dengan penglihatan anda tentang judul di atas. Ini mungkin hal kecil yang jarang diperhatikan oleh banyak orang, namun memberikan dampak yang cukup signifikan. Selama ini kita terbiasa mengatakan atau menuliskan bahwa Tuhan itu abadi tanpa menyadari makna dengan perkataan kita sendiri karena faktor kebiasaan atau terbiasa mengikut (taqlid). Continue reading

Mendaki Gunung Spiritual

28 May

535883_2960430611198_1050328322_nPernahkah anda mendaki gunung? mungkin ya, mungkin juga belum. Namun kita tahu bahwa seorang pendaki, saat memulai pendakian di kaki gunung, sudah barang tentu puncak sudah tervisualisasi dalam benak dan pikirannya. Keinginan mencapai puncak adalah suatu tujuan. Seorang pendaki baru puas jika sudah mencapai puncak. Dari ketinggian puncak sebuah gunung menciptakan suasana yang begitu sulit diucapkan dengan kata-kata. Selain keindahan panorama alam, berdiri di atas puncak suatu gunung, sadar ataupun tidak, ada sebentuk keindahan yang mengalir dalam diri kita yang mewakili kebesaran Tuhan yang tiada henti-hentinya. Begitu banyak pujian dan rasa syukur yang terucap mengalir dengan berbagai bahasa hati yang terkadang kita sendiri tidak memahami bentuknya. Pencapaian titik puncak membuat kita lupa akan sulitnya medan pendakian yang menanjak serta berbatu cadas yang terkadang harus membuat kita merayap, memanjat di tengah hujan badai, hawa dingin dan terik panas matahari. Continue reading

%d bloggers like this: